Text
Buku obat sehari-hari
Anda tahu berapa banyak jumlah merek obat yang beredar di Indonesia? Saya tidak angka pastinya. Setidaknya pasti puluhan ribu, bahkan mungkin hingga beberapa ratus ribu. Itu pun setiap tahun masih ada tambahan ribuan merek obat baru yang beredar. Menurut catatan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), sepanjang tahun 2012 saja, ada sekitar empat ribu produk obat, obat tradisional, dan suplemen yang teregistrasi. Ini baru jumlah dalam satu tahun.
Tiap tahun ribuan produk baru membanjiri pasar, se- mentara kita sebagai konsumen tidak mengetahui apa- apa mengenai produk-produk ini. Kita mempercayakan urusan obat sepenuhnya kepada petugas kesehatan (dan... iklan!) Saat kita pulang dari dokter dan apotek, kita membawa satu kresek obat yang kita tidak tahu apa isinya dan bagaimana efeknya terhadap tubuh. Padahal, sebagai konsumen kita mestinya punya pengetahuan mengenai apa yang kita bayar dan kita konsumsi.
Obat sejatinya adalah racun. Lebih tepatnya, "racun yang punya manfaat". Dokter adalah orang yang meresepkan racun itu. Dan apoteker adalah orang yang menyediakan
acun itu. Karena berurusan dengan racun itulah, dokter dan apoteker bekerja di bawah sumpah.
Sebetulnya jumlah obat esensial (yang memang sangat kita butuhkan dan sebaiknya kita ketahui) tidak begitu banyak. Hanya dalam kisaran beberapa ratus. Namun, faktanya, di Indonesia obat yang beredar di pasar jum- lahnya melimpah ruah. Dalam hitungan ribuan. Seolah- olah kita memerlukan semuanya. Banyaknya jumlah obat ini cukup membingungkan. Bukan hanya bagi kon- sumen awam, bahkan juga bagi dokter dan apoteker. (Buku ini memang ditulis karena penulis berusaha men- gurai kebingungan itu :p)
Buku pedoman obat yang diperuntukkan buat tenaga kesehatan sudah banyak diterbitkan. Jika Anda rajin per- gi ke toko buku Gramedia atau Gunung Agung, Anda bisa mengamati, di sana biasanya ada satu rak khusus yang sepanjang tahun selalu berisi buku berjudul ISO Indone- sia dan MIMS. ISO kependekan dari Informasi Spesialite Obat. MIMS singkatan dari Monthly Index of Medical Specialities. Buku-buku ini hanya untuk tenaga kesehat- an seperti dokter, dokter gigi, apoteker, bidan, dan pera- wat. Sementara, buku panduan serupa yang ditulis un- tuk konsumen (yang harus membayar dan menerima risikonya) justru masih belum banyak.
Apakah orang awam perlu memiliki pengetahuan me- ngenai obat-obatan? Bukankah ilmu obat itu memang wilayah tenaga kesehatan?
Tentu saja konsumen tidak perlu tahu urusan obat se- perti mahasiswa jurusan kedokteran atau farmasi. Yang perlu diketahui adalah pengetahuan dasar yang membuat mereka tahu apa yang mereka minum.
Penjelasan di buku ini sama sekali tidak dimaksudkan agar pembaca bisa mengobati diri sendiri dan tidak perlu datang ke dokter. Penjelasan obat di sini lebih dimak- sudkan sebagai bekal pengetahuan agar orang awam mengetahui isi obat yang mereka minum, bagaimana cara kerjanya, apa efek sampingnya, dan informasi-infor- masi lain yang perlu diketahui.
Idealnya dokter dan apoteker memberi penjelasan gam- blang kepada pasien. Namun, seperti kita tahu, kondisi layanan kesehatan di Indonesia masih jauh dari bagus. Pasien sering tidak mendapatkan penjelasan yang me- madai tentang obat yang diberikan kepadanya. Bahkan, pasien yang menggunakan haknya untuk bertanya pun sering dianggap rewel dan bawel. Padahal, informasi yang penting dan jujur adalah hak pasien.
Buku ini ditulis untuk pembaca awam yang tidak ber- latar belakang pendidikan ilmu kesehatan, karena itu tidak mengikuti kaidah umum dalam dunia ilmiah. Isti- lah-istilah medis yang sulit dipahami saya terjemahkan ke dalam bahasa populer yang mungkin kurang tepat- menurut standar ilmiah. Tujuannya semata-mata agar lebih mudah dipahami.
Tidak tersedia versi lain