Text
Menghidupkan yang Mati
BERKAT nyawa manusia dikatakan hidup Adanya nyawa itulah yang menandai kehidupan si manusia Hingga akhirnya ketika ada manusia yang mati (baca: meninggal), dikatakan nyawanya dicabut malaikat Menulis, bisa dikatakan adalah "nyawa" yang menandai kehidupan si penulis Penulis yang tak menulis menandakan dirinya "mati" "Nyawa nya (baca hasrat menulis) telah tercabut, bukan oleh malaikat, melamkan rasa malas dan kultur mordernitas
Di ranah kampus ada komunitas yang menyebut dirinya sebagai Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), mereka adalah orang orang yang bergiat di bidang jurnalistik. Laku keseharian mereka tak jauh dari riset baca, meneliti dan menulis Tak hanya fokus dalam ranah jurnalis, sebagian besar juga mendalami sastra (cerpen dan puisi) Eksistensi mereka, kehidupan berliterasinya biasanya dapat dilihat dari ada tidaknya buah karya mereka semisal majalah/koran/buletin kampus atau nama-nama punggawanya yang termuat di media massa, semisal koran dan portal
LPM Paradigina, atau Paradigma Institute adalah satu dan sekian banyak Lembaga Pers Mahasiswa yang tersebar di seluruh di Indonesia. LPM yang bernaung di STAIN Kudus ini sudah ada sejak tahun 2000-an. Hidup-matinya ditandai dengan lahirnya Majalah Paradigma tiap satu semester, setengah tahun sekali. Juga hadirnya buletin sastra Qov, buletin rintisan milik peminat- peminat sastra, serta buletin Det!k, milik punggawa-punggawa barunya.
Menjadi sebuah ironi ketika punggawa Paradigma Institute kini tak bergairah menulis Hasrat menulisnya mati. Dengan dalih kesibukan tugas kuliah, bekerja sambilan bagi yang bekerja atau dengan dalih-dalih lainnya. Menulis, bisa jadi adalah momok yang menakutkan bagi punggawa Paradigma Institute kini.
Gaung namanya tak lagi meramai koran-koran lokal, apalagi nasional. Mereka kini, banyak disibukkan dengan proses pembuatan majalah wajibnya, Majalah Paradigma. Bisa dikatakan kabar baik, ketika Majalah Paradigma masih bisa terbit sampai kini. Tapi juga muncul kabar buruk, ketika para punggawanya tak lagi berhasrat menulis. Takut tulisannya dikatai jelek, mungkin. Akibatnya laku keseharian mereka kini lebih banyak "bermain- main".
Tidak tersedia versi lain