Text
I was Invisible
Akhirnya, bisa bernapas lega setelah setiap hari menatap layar laptop berjam- jam lamanya demi menumpahkan ide-ide yang terus terbayang di otak ke dalam bentuk tulisan
Selama proses pengerjaan novel ini, banyak sekali orang-orang yang telah membantuku. So, aku mau mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada... Allah SWT, karena-Nya sampai detik ini aku masih bisa bernapas, masih bisa merasakan kehidupan, masih bisa merasakan berbagai nikmat yang Dia berikan.
Untuk Ayah dan Ibu, yang tak pernah lelah mendukungku dan memberi
fasilitas untuk terus berkarya. Tanpa dukungan dan fasilitas dari mereka, aku
tak mungkin bisa menjadi sekarang ini. Untuk Teh Lygia, atas waktu dan bimbingannya yang tak terhitungkan.. Terima kasih atas segalanya, Teh!
Untuk editor dan juga semua kru dari penerbit Grasindo yang terlibat
sepanjang proses percetakan buku ini. Tanpa mereka, buku yang dipegang di
tanganmu ini tidak mungkin ada.
Untuk Azizah, teman satu perjuangan, yang sama-sama menggeluti dunia
kepenulisan. Selain menjadi partner menulis, dia juga selalu mengingatkanku
atas berbagai hal kecil yang sering kulupakan. Terima kasih, Zah!
Untuk Icha kuadrat, Puput, Hani, Dilla, Fathia, Nieda, Ayu dan Anjali yang selalu ada untukku. Terima kasih karena telah bersabar dan tak pernah lelah mendengarkan segala cerita dari mulutku yang tak bisa diam.
Untuk teman-teman di SMP Istiqamah Bandung, yang nggak mungkin
aku tuliskan nama kalian satu-satu disini. Semoga kelas sembilannya sukses yal Untuk guru-guruku di sekolah, atas bimbingan, dukungan, dan
dedikasinya untuk menciptakan masa depan bagiku. Tanpa mereka, aku takan
bertahan sejauh ini.
Last but not least, untuk pembaca yang setia bertanya, "kapan bukunya terbit lagi?" pertanyaan yang selalu membuatku sadar bahwa aku harus terus berkarya. Mereka adalah pemicu bagiku, agar terus menulis. They're my sunshine. Without them, I am noting. Thanks for everything,
Invisible adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupanku. Aku tidak pernah benar-benar dianggap oleh lingkungan tempatku berada, karena posisiku berada jauh di bawah saudara kembarku yang hebat dan punya segalanya
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menganggap diriku tak terlihat Tapi aku juga ingin dipuji, aku ingin namaku seharum namanya, aku ingin punya bakat yang bisa
Aku selalu ini dengan saudara kembarku Dia memang pintar dan layak mendapat pujian. membanggakan orang tuaku. Aku tidak yakin apakah suatu saat namaku juga akan bersinar seperti namanya, tapi jauh di dalam kesadaranku, aku yakin bahwa aku punya bakat yang terpendam. Lihat saja, aku akan membuktikan kepada dunia bahwa aku bisa sehebat dia
Tidak tersedia versi lain