Text
LA Rangku
Inti kerja sastra dan tentu saja seluruh bentuk seni lainnya terma- suk kerja festival kesenian adalah dokumentasi. Dengan dokumentasi yang apik dan bermutu, kerja sastra dan seluruh bentuk senl lainnya termasuk ajang festival kesenian bisa dipanggil ulang, didiskusikan, dicari kelemahan dan kelebihan sehingga langgenglah sastra itu, seni itu, festi val kesenian itu. Bahkan, Inovasi-Inovasi sastra dan seni pada umumnya termasuk juga festival bisa dilakukan. Dari dokumentasi pula, arah anomali (sebagai tema sentral FS5 2011) bisa dibaca dan diarahkan.
Syahdan, dalam lomba manuskrip buku kumpulan puisi, cerita pen- dek (cerpen), dan esal Festival Seni Surabaya (FSS) 2011 telah diterima sebanyak 30 naskah manuskrip buku yang terdiri dari 2 naskah manuskrip buku esal, 9 naskah manuskrip buku puisi, dan 19 naskah manuskrip buku cerpen. Naskah manuskrip buku dikirimkan oleh tidak saja penulis dari Jawa Timur namun juga dari kota-kota lain di Indonesia seperti Jakarta, Pekanbaru, Serang, dan lainnya. Para peserta lomba manuskrip buku FSS 2011 terdiri atas penulis pemula hingga penulis kawakan.
Dalam seleksi awal (administratif), panitia menetapkan hanya ada 28 naskah manuskrip yang lolos dan masuk dalam seleksi tim juri. Dua naskah manuskrip buku yang didiskualifikasi secara administratif oleh panitia karena kedua manuskrip buku tersebut dikirimkan oleh penulis yang sama. Sesuai peraturan lomba, satu penulis hanya diperbolehkan mengikutkan satu manuskrip buku dalam satu kategori lomba.
Ke-28 naskah tersebut telah dibaca, ditelaah, dan dinilai oleh Tim Juri yang terdiri dari S. Yoga, Beni Setia, dan Tengsoe Tjahjono. Dalam proses itu, Tim Juri memilih manuskrip buku cerpen "La Rangku dan manuskrip buku puisi "Syair Pemanggul Mayat sebagal pemenang. Sedangkan kategori manuskrip esai tidak ada pemenang karena naskah yang masuk, menurut Tim Juri. belum ada yang sesuai kriteria. Manuskrip esai yang terjaring cenderung mengarah pada kajian akademik dan mengarah pada laporan jurnalistik. Secara umum, Tim Juri menilai, manuskrip peserta belum mendekati konsep esai yang menonjolkan gagasan subyektif penulis. Manuskrip peserta hanya diarahkan sebagai bentuk apresiasi karya sekaligus jembatan karya seni pada publik. Meskipun, kualitas kajian akademik dan laporan jurnalistik itu tidak bisa dipandang sebelah mata.
Kedua buku yang saat ini ada di tangan pembaca merupakan wakil dari FSS 2011 yang membaca kondisi sastra dan kesenian pada umumnya sedang mengalami proses anomali. Anomali merupakan gejala ketidaknormalan, penyimpangan: kelainan. Anomali merupakan proses ambang antara sesuatu yang sudah ada sebagai titik pijak dan titik pendaratan sebagai bentuk final penyimpangan. Gejala ini selalu menyimpan tindak eksploratif. Tindak penjelajahan. Laku ini selalu mengarah pada perubahan. Kata terakhir ini selalu lekat sembunyi dalam proses anomali. Arah perubahan layaknya mata trisula: satu ke arah pembaruan, lainnya ke arah pengulangan, lainnya lagi ke arah kemunduran.
Untuk mengetahui ke arah manakah proses anomali itu. dibutuhkan sebentang jejak, peta yang menunjukkan arah. Dan buku ini diharapkan menjadi satu mozaik peta yang bisa menuntun kita membaca arah anomali. Namun begitu, usaha ini sifatnya hanyalah sebuah upaya pembacaan. Sifatnya prediktif dan bukan konklusif. Jadi sangat terbuka untuk dikaji ulang, dibedah ulang. Sebab yang tahu kemana arah sebenarnya dari proses anomali ini tak lain adalah Tuhan.
Tidak tersedia versi lain